Menahan dan Mengontrol Peluru Dengan Taichi
Ditulis oleh Tulang Putih di/pada November 5, 2009

Tai Chi yang sekarang bukanlah tai chi yang sebenarnya.
saya bukan bicara begini karena itu tak lagi dipakai untuk beladiri. bukan
begitu.
silakan berolahraga tapi berolahraga pun harus benar.
“tai chi” yang ada sekarang cuma menghasilkan 10% dari 100% kesehatan yang
seharusnya anda terima. meski lambat, lambatnya pun harus mengerti filosofi yin
yang.
jika tak mengerti, cuma hafal liukannya saja tak akan menghasilkan 100%
kesehatan.
ya, memang tai chi untuk berkelahi juga masih ada di shaolin dan beberapa
perguruan kungfu, tapi itu pun cuma 70% kekuatan.
untuk menguasai tai chi, baca buku tao te ching.
Tao te ching bisa diconvert menjadi 3 bentuk senjata:
1. kitab perang yang lebih bagus dari sun tzu’s art of war.
2. kitab tai chi (energy kungfu)
3. kitab kuntao (rangkaian ilmu kungfu)
dalam semua ilmu beladiri yang baik apapun namanya, ada tai chi di dalamnya.
belajar tai chi secara tersendiri ibarat mengambil satu esensi dari kungfu.
tapi esensi kungfu bukan cuma tai chi, ada banyak. misalnya saja peraturan hidup
dan kebijakan juga esensi esensi kungfu.
jika sudah mengerti akan tai chi, maka seperti kata Morpheus pada Neo, “you
won’t have to dodge bullets”.
Peluru bisa kita tahan, kontrol, dan kembalikan.
Meski dalam keadaan tak siaga akan peluru, seorang taoist bisa hidup awetmuda
dan menghindari keadaan-keadaan yang menyebabkannya berada di dekat peluru.
jika terlalu keras kita bisa kena peluru. begitupula jika terlalu lemah.


Tulang Putih berkata
Yang penting seseorang tahu beda keras dan kejam.
Memperlakukan orang lain seenaknya bukanlah keras.
Anda keras jika anda bisa bilang tak pada minuman keras dan narkoba.
Anda keras jika anda bisa bilang tak pada kekerasan, kejahatan, ketakaliman.
Karena bilang tak pada kebaikan mudah sekali dilakukan. Karena itu di dunia ini lebih banyak orang jahat.
Definisi “keras” yang sebenarnya menurut pandangan Sang Buddha:
“Telah tujuh tahun aku mengikuti Sang Buddha’, kata Mara, ‘dan aku telah mengamati setiap langkah yang dibuatnya. Tidak satu kali pun aku bisa mengalahkanNya, yang sepenuhnya telah tercerahkan dan waspada.
Masih jelas dalam ingatanku seekor burung gagak yang terbang di atas segumpal lemak di tanah. ‘Ah, makanan!’ pikirnya. Tetapi gumpalan itu ternyata batu, yang keras dan tidak dapat dimakan. Maka gagak itu terbang dengan perasaan muak.”
Jadi, keras itu, menurut Shakhyamunibuddha adalah “tahan untuk tetap teguh di jalan yang benar.”
Jalan benar itu sendiri tak ada kaitannya dengan agama atau berbuat baik. tapi adalah jalan yang tak membuat diri sendiri merugi.
vorkow berkata
There are many translated versions of the tao te ching. Which one is recommended?
Tulang Putih berkata
I don’t live in the west.
I use this:
http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792247695/Dao-De-Jing-The-Wisdom-of-Lao-Zi